Info Anda post author Kiwi 23 Juli 2026

Jejak Kepemimpinan Prof. Syarif di IAIN Pontianak

Photo of Jejak Kepemimpinan Prof. Syarif di IAIN Pontianak

Mengawal Moderasi Beragama, Membangun Benteng Pencegahan Radikalisme Bernegara dan Berbangsa

PONTIANAK, SP - Transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak pada era kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. tidak hanya ditandai dengan pembangunan infrastruktur kampus, peningkatan mutu akademik, digitalisasi layanan, maupun pengembangan sumber daya manusia.

Di balik berbagai capaian tersebut, terdapat satu agenda strategis yang menjadi fondasi penting pembangunan institusi, yakni penguatan moderasi beragama sebagai benteng pencegahan radikalisme, intoleransi, dan disintegrasi bangsa.

Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta masifnya penyebaran berbagai ideologi transnasional melalui media sosial dan ruang digital, perguruan tinggi keagamaan Islam dipandang memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar melahirkan lulusan yang unggul secara akademik.

Kampus harus menjadi ruang pembentukan karakter, tempat lahirnya generasi yang religius, moderat, berintegritas, memiliki wawasan kebangsaan, menghargai keberagaman, serta mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bagi Prof. Syarif, pendidikan tinggi Islam harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan sehingga keduanya menjadi kekuatan yang saling menguatkan dalam membangun peradaban. Islam tidak boleh diposisikan berhadap-hadapan dengan Indonesia, melainkan harus menjadi fondasi moral dalam memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara.

"IAIN Pontianak tidak hanya bertugas mencetak sarjana yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki akhlak, berpikiran moderat, menghargai keberagaman, serta memiliki komitmen kuat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Islam dan Indonesia tidak boleh dipertentangkan, justru keduanya harus berjalan beriringan dalam membangun peradaban," ujar Prof. Syarif.

Pandangan tersebut lahir dari kesadaran bahwa ancaman radikalisme terus mengalami perubahan bentuk. Jika sebelumnya penyebaran paham ekstrem lebih banyak dilakukan melalui pertemuan tatap muka, kini berbagai narasi intoleransi, ujaran kebencian, hoaks, hingga propaganda yang mengatasnamakan agama dengan mudah menyebar melalui media sosial dan platform digital yang banyak diakses generasi muda.

Karena itu, menurut Prof. Syarif, pencegahan radikalisme tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan hukum maupun keamanan semata. Upaya tersebut harus dimulai dari dunia pendidikan dengan membangun cara berpikir kritis, memperkuat wawasan kebangsaan, serta menghadirkan pemahaman agama yang utuh, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

"Cara paling efektif menangkal radikalisme adalah melalui pendidikan. Mahasiswa harus dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh narasi kebencian, hoaks maupun ajakan-ajakan yang mengatasnamakan agama tetapi bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin dan konstitusi negara," tegasnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, penguatan moderasi beragama kemudian menjadi salah satu arah kebijakan utama yang mewarnai perjalanan transformasi IAIN Pontianak. Nilai-nilai Islam Wasathiyah tidak hanya diajarkan di ruang kuliah, tetapi diintegrasikan ke dalam seluruh aspek kehidupan akademik, mulai dari kurikulum, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembinaan kemahasiswaan, hingga tata kelola kelembagaan.

Moderasi Beragama Menjadi Pilar Transformasi Kampus

Pada masa kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A., moderasi beragama menjadi salah satu pilar utama transformasi IAIN Pontianak.

Nilai-nilai Islam Wasathiyah, penghormatan terhadap keberagaman, semangat kebangsaan, Pancasila, serta komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia diintegrasikan secara sistematis ke dalam pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembinaan kemahasiswaan, hingga tata kelola kelembagaan.

Pendekatan tersebut membangun ekosistem akademik yang tidak hanya mengejar keunggulan intelektual, tetapi juga membentuk lulusan yang berkarakter moderat, toleran, berwawasan kebangsaan, dan mampu menjadi perekat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

Penguatan moderasi juga diwujudkan melalui organisasi kemahasiswaan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dialog kebangsaan, seminar lintas agama, pengabdian masyarakat, dan berbagai kegiatan kepemudaan yang menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan, toleransi, dan tanggung jawab sosial.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Pontianak, Prof. Dr. Ismail Ruslan, M.Si., menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter mahasiswa.

"Moderasi beragama merupakan fondasi dalam membangun karakter mahasiswa. Kampus tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki wawasan kebangsaan, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk," ujarnya.

Menurut Prof. Ismail, kerja sama dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dan mitra internasional turut memperkuat wawasan kebangsaan mahasiswa melalui program pertukaran, kuliah umum, seminar, dan pengabdian kepada masyarakat.

"Mahasiswa harus dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan yang adaptif terhadap perubahan global, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Islam Wasathiyah, Pancasila, dan semangat persatuan Indonesia. Karena itu, seluruh program kemahasiswaan kami arahkan menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kolaborasi, dan penguatan moderasi beragama," tambahnya.

Melalui integrasi kebijakan akademik, pembinaan kemahasiswaan, serta kolaborasi lintas lembaga, IAIN Pontianak berhasil menjadikan moderasi beragama sebagai identitas sekaligus roh transformasi kampus. Warisan kepemimpinan Prof. Syarif tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan tinggi Islam, tetapi juga melahirkan lulusan yang berintegritas, moderat, adaptif, dan siap menjaga persatuan bangsa.

Rumah Moderasi Beragama Menjadi Garda Terdepan Penguatan Moderasi Beragama

Salah satu kebijakan strategis pada masa kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. adalah penguatan Rumah Moderasi Beragama (RMB) sebagai pusat pengembangan nilai-nilai moderasi beragama di IAIN Pontianak. Kehadirannya tidak hanya sebagai implementasi kebijakan Kementerian Agama, tetapi juga menjadi instrumen untuk membangun budaya akademik yang inklusif, dialogis, toleran, dan berwawasan kebangsaan.

Di bawah kepemimpinan Prof. Syarif, RMB menjadi garda terdepan dalam mencegah berkembangnya intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme melalui pendekatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dialog, pelatihan, serta penguatan literasi kebangsaan.

Rumah Moderasi Beragama juga menjadi ruang kolaborasi antara sivitas akademika, pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, aparat keamanan, dan masyarakat dalam memperkuat kehidupan beragama yang damai dan harmonis.

Berbagai program diselenggarakan secara berkelanjutan, mulai dari seminar nasional, kuliah umum, Focus Group Discussion (FGD), lokakarya, Pelatihan Pelopor Moderasi Beragama, dialog lintas agama, penelitian kolaboratif, hingga pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan tersebut melibatkan Kementerian Agama, FKUB, MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, pemerintah daerah, Kesbangpol, TNI, Polri, akademisi, dan berbagai perguruan tinggi, sehingga memperkuat posisi IAIN Pontianak sebagai salah satu pusat pengembangan moderasi beragama di Kalimantan Barat.

Melalui berbagai forum tersebut, mahasiswa dibiasakan berdialog secara ilmiah, menghargai perbedaan, serta membangun cara pandang yang inklusif terhadap keberagaman agama, suku, budaya, dan etnis.

RMB juga berperan sebagai pusat kajian moderasi beragama, resolusi konflik, dan masyarakat multikultural, sekaligus mengembangkan literasi digital untuk menangkal hoaks, propaganda intoleransi, dan paham ekstrem di ruang digital.

Program-program RMB terintegrasi dengan pembinaan di Ma'had Al-Jami'ah, mentoring keagamaan, organisasi kemahasiswaan, Sekolah Wawasan Kebangsaan (SWKB), penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga nilai-nilai moderasi beragama benar-benar menjadi budaya dalam kehidupan akademik.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Pontianak, Prof. Dr. Ismail Ruslan, M.Si., menilai Rumah Moderasi Beragama merupakan instrumen strategis dalam membentuk karakter mahasiswa.

"Rumah Moderasi Beragama bukan hanya sebuah unit, tetapi ruang pembelajaran bersama yang menanamkan budaya dialog, saling menghormati, dan membangun kepercayaan di tengah keberagaman. Mahasiswa harus dibiasakan berdialog secara ilmiah, menyampaikan gagasan dengan santun, serta menerima perbedaan sebagai kekayaan bangsa Indonesia," ujarnya.

Menurut Prof. Ismail, penguatan RMB merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara sosial dan mampu menjadi agen perdamaian.

"Kami ingin lulusan IAIN Pontianak memiliki kecerdasan sosial, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, serta kemampuan menjadi jembatan dialog di tengah masyarakat. Karena itu, Rumah Moderasi Beragama terus kami dorong menjadi laboratorium kebangsaan yang melahirkan pelopor moderasi beragama dan penggerak toleransi," katanya.

Melalui penguatan Rumah Moderasi Beragama, kepemimpinan Prof. Syarif berhasil meletakkan fondasi budaya akademik yang moderat, inklusif, dan dialogis. Kehadiran RMB menjadi salah satu warisan penting yang mempertegas transformasi IAIN Pontianak sebagai perguruan tinggi Islam yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga berperan aktif menjaga kerukunan, memperkuat kebinekaan, dan memperkokoh ketahanan kebangsaan.

Integrasi Moderasi dalam Kurikulum dan Kehidupan Akademik

Selain it, capaian penting lainnya pada masa kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. adalah keberhasilan mengintegrasikan moderasi beragama ke dalam seluruh ekosistem akademik IAIN Pontianak.

Moderasi tidak diposisikan sebagai program tambahan, melainkan menjadi paradigma pendidikan yang mewarnai pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga tata kelola kelembagaan.

Prof. Syarif meyakini perguruan tinggi Islam tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk intelektual muslim yang berkarakter, memiliki wawasan kebangsaan, serta mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang majemuk. Karena itu, nilai-nilai Islam Wasathiyah, maqashid syariah, fikih kebangsaan, penghormatan terhadap keberagaman, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap NKRI diintegrasikan ke dalam kurikulum berbagai program studi.

Setiap program studi didorong mengembangkan pembelajaran yang menanamkan toleransi, dialog, demokrasi, dan penyelesaian konflik secara damai melalui metode yang partisipatif, seperti diskusi, studi kasus, pembelajaran berbasis proyek, penelitian lapangan, dan kolaborasi lintas disiplin.

Penguatan moderasi juga dilakukan di luar ruang kelas melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, Kuliah Kerja Nyata (KKN), organisasi kemahasiswaan, mentoring keagamaan, Ma'had Al-Jami'ah, Sekolah Wawasan Kebangsaan (SWKB), seminar nasional, hingga dialog lintas agama. Dengan demikian, moderasi beragama menjadi budaya akademik yang hidup dalam seluruh aktivitas kampus.

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Pontianak, Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa integrasi moderasi beragama merupakan bagian dari upaya membangun mutu pendidikan yang utuh.

"Di bawah kepemimpinan Prof. Syarif, mutu pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari keberhasilan membentuk karakter lulusan. Karena itu, moderasi beragama diintegrasikan ke dalam kurikulum, proses pembelajaran, evaluasi, hingga budaya akademik agar setiap lulusan memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, integritas moral, dan komitmen kebangsaan," ujarnya.

Menurut Prof. Edi, penjaminan mutu juga memastikan setiap proses pendidikan menghasilkan lulusan yang berpikir moderat, terbuka terhadap dialog, menghargai keberagaman, dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat.

Pandangan tersebut diperkuat Ketua LP2M IAIN Pontianak, Dr. Usman, M.Pd.I., yang menilai moderasi beragama harus tercermin dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

"Apa yang dipelajari mahasiswa di ruang kuliah harus diperkuat melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengalaman di lapangan. Dengan cara itu, moderasi beragama tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi sikap hidup," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ismail Ruslan, M.Si., menegaskan bahwa pembentukan karakter harus berjalan seiring dengan penguatan kompetensi akademik.

"Kami tidak ingin melahirkan lulusan yang hanya unggul secara intelektual tetapi miskin kepekaan sosial. Karena itu, aktivitas kemahasiswaan diarahkan untuk memperkuat kepemimpinan, wawasan kebangsaan, kemampuan berdialog, dan semangat kolaborasi sebagai implementasi nyata moderasi beragama," katanya.

Melalui kebijakan yang terintegrasi tersebut, IAIN Pontianak berhasil membangun budaya akademik yang inklusif, dialogis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Integrasi moderasi beragama menjadi salah satu warisan penting kepemimpinan Prof. Syarif dalam memperkuat karakter lulusan sekaligus meneguhkan peran IAIN Pontianak sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, moderat, dan berkomitmen menjaga persatuan bangsa.

Ma'had Al-Jami'ah Menjadi Laboratorium Pembentukan Karakter

Salah satu pilar pembentukan karakter mahasiswa pada masa kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. adalah Ma'had Al-Jami'ah.

Keberadaannya tidak sekadar sebagai asrama mahasiswa, tetapi dikembangkan menjadi pusat pembinaan yang mengintegrasikan penguatan spiritual, akademik, intelektual, sosial, dan wawasan kebangsaan dalam satu ekosistem pendidikan.

Di bawah kepemimpinan Mudir Ma'had Dr. Muh. Gito Saroso, S.Ag., M.Ag., ma'had terus dikembangkan sebagai laboratorium pembentukan karakter melalui pembiasaan ibadah berjamaah, pembelajaran Al-Qur'an, penguatan bahasa Arab dan Inggris, serta penanaman disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, dan akhlakul karimah.

Mahasiswa yang berasal dari beragam daerah, suku, budaya, dan latar belakang organisasi hidup bersama dalam suasana yang mencerminkan kemajemukan Indonesia. Kehidupan sehari-hari di ma'had menjadi ruang belajar untuk membangun toleransi, memperkuat ukhuwah, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan musyawarah.

Mantan Mudir Ma'had Al-Jami'ah periode 2017-2018, Dr. Baihaqi, S.H.I., M.A., menilai sistem pembinaan berbasis asrama merupakan model pendidikan karakter yang sangat efektif.

"Ma'had bukan sekadar tempat tinggal mahasiswa. Di sinilah mereka belajar hidup bersama dalam keberagaman, membangun kedisiplinan, menghormati perbedaan, mengembangkan kepemimpinan, sekaligus menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat melalui pembiasaan sehari-hari. Pendekatan seperti ini sangat efektif mencegah berkembangnya sikap eksklusif maupun paham-paham ekstrem," ujarnya.

Menurut Baihaqi, keteladanan para musyrif, musyrifah, dosen, dan pengelola ma'had menjadi faktor penting dalam membentuk budaya saling menghormati, saling mengingatkan, dan membangun kepribadian mahasiswa secara utuh.

Pandangan serupa disampaikan Ketua LP2M IAIN Pontianak, Dr. Usman, M.Pd.I., yang juga pernah menjabat sebagai Mudir Ma'had Al-Jami'ah. Ia menyebut ma'had sebagai ruang yang memadukan kecerdasan intelektual dengan pembentukan karakter.

"Ma'had Al-Jami'ah adalah laboratorium kehidupan. Mahasiswa tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga belajar menghargai keberagaman, membangun empati, hidup disiplin, bertanggung jawab, dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi lahirnya lulusan yang moderat dan berkarakter," jelasnya.

Menurut Dr. Usman, kehidupan bersama di ma'had juga menjadi benteng yang efektif dalam menangkal intoleransi dan radikalisme karena mahasiswa dibiasakan berdialog, saling mengenal, serta membangun persaudaraan tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Melalui penguatan Ma'had Al-Jami'ah, kepemimpinan Prof. Syarif berhasil menjadikan pembinaan berbasis asrama sebagai fondasi penting dalam melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, matang secara spiritual, berkarakter kuat, serta memiliki komitmen terhadap moderasi beragama dan persatuan bangsa.

Pembinaan Mahasiswa Melalui Organisasi dan Wawasan Kebangsaan

Penguatan moderasi beragama pada masa kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan akademik, tetapi juga melalui pembinaan mahasiswa yang terstruktur dan berorientasi pada pembentukan karakter. Mahasiswa dipandang sebagai calon pemimpin bangsa sehingga pembinaan kemahasiswaan menjadi salah satu prioritas dalam transformasi IAIN Pontianak.

Pembinaan dilakukan melalui organisasi kemahasiswaan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), mentoring keagamaan, pelatihan kepemimpinan, kaderisasi, seminar kebangsaan, dialog lintas budaya, hingga Sekolah Wawasan Kebangsaan (SWKB). Seluruh program dirancang untuk mengintegrasikan kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan sosial, sekaligus menanamkan nilai demokrasi, toleransi, kolaborasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Mahasiswa didorong aktif dalam organisasi sebagai laboratorium kepemimpinan. Mereka dibiasakan berdialog secara terbuka, menyampaikan argumentasi berbasis data, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Sementara itu, mentoring keagamaan memperkuat pemahaman Islam Wasathiyah, akhlakul karimah, dan tanggung jawab sosial, sedangkan SWKB membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, bela negara, dan tantangan kebangsaan di era digital.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Pontianak, Prof. Dr. Ismail Ruslan, M.Si., menegaskan bahwa pembinaan mahasiswa merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang unggul secara akademik sekaligus memiliki integritas dan komitmen kebangsaan.

"Mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Karena itu, pembinaan yang kami lakukan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, dan kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman. Kami ingin setiap mahasiswa IAIN Pontianak menjadi agen perdamaian yang membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil 'alamin," ujarnya.

Menurut Prof. Ismail, organisasi kemahasiswaan merupakan ruang belajar kepemimpinan yang efektif karena mahasiswa dilatih memimpin, membangun komunikasi, mengelola perbedaan, dan mengambil keputusan secara demokratis.

"Organisasi mahasiswa bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi ruang pembelajaran kepemimpinan, etika, komunikasi, kolaborasi, dan penyelesaian konflik. Di sanalah mahasiswa belajar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dikelola menjadi kekuatan bersama," jelasnya.

Ia menambahkan, derasnya arus informasi digital membuat penguatan wawasan kebangsaan dan literasi digital semakin penting agar mahasiswa mampu menangkal hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, dan berbagai paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

"Mahasiswa harus memiliki daya kritis, kecintaan terhadap bangsa, serta kemampuan menyaring informasi. Mereka harus menjadi bagian dari solusi, bukan penyebar narasi yang memecah belah persatuan. Nilai kebangsaan, moderasi beragama, dan literasi digital harus berjalan beriringan," tegasnya.

Melalui berbagai program tersebut, mahasiswa tidak hanya dibentuk menjadi pribadi yang aktif berorganisasi dan berprestasi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial melalui pengabdian masyarakat, dialog lintas agama, kegiatan kemanusiaan, dan kolaborasi dengan berbagai lembaga. Pembinaan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam melahirkan lulusan yang berkarakter moderat, berwawasan kebangsaan, memiliki jiwa kepemimpinan, serta siap menjaga persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penelitian dan Pengabdian Menguatkan Moderasi Beragama

Komitmen IAIN Pontianak dalam memperkuat moderasi beragama pada masa kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. tidak hanya diwujudkan melalui pembelajaran dan pembinaan mahasiswa, tetapi juga melalui penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Prof. Syarif menempatkan riset sebagai instrumen untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial. Karena itu, penelitian tidak hanya diarahkan memenuhi target publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan rekomendasi yang dapat memperkuat kerukunan umat beragama, menjaga persatuan bangsa, serta mencegah berkembangnya intoleransi, radikalisme, dan konflik sosial.

Para dosen didorong mengembangkan penelitian mengenai moderasi beragama, Islam Wasathiyah, multikulturalisme, toleransi, resolusi konflik, pendidikan karakter, hingga harmonisasi kehidupan masyarakat multietnis di Kalimantan Barat. Keberagaman daerah ini dipandang sebagai laboratorium sosial yang kaya untuk melahirkan berbagai kajian ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Pontianak, Dr. Usman, M.Pd.I., mengatakan arah penelitian selama kepemimpinan Prof. Syarif selalu menempatkan kebermanfaatan sebagai prioritas utama.

"Bapak Rektor selalu mendorong agar penelitian dosen tidak berhenti sebagai laporan akademik atau sekadar memenuhi target publikasi. Hasil penelitian harus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, menjadi rujukan kebijakan, sekaligus memperkuat moderasi beragama di Kalimantan Barat maupun Indonesia," ujarnya.

Menurut Dr. Usman, hasil penelitian dosen tidak hanya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, tetapi juga dimanfaatkan untuk penyusunan kurikulum, pengembangan bahan ajar, modul moderasi beragama, serta menjadi referensi bagi pemerintah daerah, lembaga keagamaan, dan organisasi masyarakat.

LP2M juga mengembangkan berbagai program pengabdian kepada masyarakat berbasis hasil riset, seperti pendampingan desa binaan, pelatihan tokoh agama, penguatan penyuluh keagamaan, pendidikan multikultural, literasi digital, pemberdayaan ekonomi umat, dan pembinaan generasi muda dengan mengedepankan nilai-nilai moderasi beragama.

"Kami ingin hasil penelitian benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Penelitian harus terhubung dengan pengabdian sehingga kampus hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial," jelasnya.

Semangat tersebut juga ditanamkan kepada mahasiswa dengan mendorong tema-tema moderasi beragama, toleransi, multikulturalisme, resolusi konflik, dan pemberdayaan masyarakat dalam skripsi maupun karya ilmiah. Melalui penelitian, mahasiswa tidak hanya menguasai metodologi ilmiah, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat yang majemuk sehingga tumbuh kepekaan sosial, kemampuan berdialog, dan cara pandang yang objektif.

"Mahasiswa harus dibiasakan meneliti realitas masyarakat secara objektif, memahami akar persoalan, kemudian menawarkan solusi yang ilmiah, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Itulah hakikat perguruan tinggi, yakni menghasilkan ilmu yang bermanfaat sekaligus melahirkan generasi yang mampu menjaga persatuan dan merawat keberagaman," ungkapnya.

Melalui sinergi antara penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, IAIN Pontianak berhasil membangun ekosistem akademik yang menjadikan moderasi beragama tidak hanya sebagai konsep, tetapi sebagai praktik yang terus dikembangkan dan diterapkan untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.

Budaya Dialog Menjadi Identitas Kampus

Kemudian, warisan penting lainnya pada kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. di IAIN Pontianak adalah tumbuhnya budaya dialog sebagai identitas akademik kampus. Nilai tersebut tidak hanya hadir dalam forum resmi, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika, mulai dari proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga aktivitas organisasi kemahasiswaan.

Di tengah dinamika kehidupan bangsa dan derasnya arus informasi digital, Prof. Syarif meyakini dialog merupakan cara paling efektif membangun saling pengertian, mengurangi prasangka, serta memperkuat persatuan. Karena itu, kampus didorong menjadi ruang yang aman bagi setiap warga akademik untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi secara ilmiah, dan menghargai perbedaan dengan tetap menjunjung etika dan adab.

Nilai tersebut diinternalisasikan melalui diskusi kelas, seminar ilmiah, kuliah umum, Focus Group Discussion (FGD), dialog lintas agama, dialog kebangsaan, hingga berbagai kegiatan organisasi mahasiswa. Dalam ekosistem tersebut, mahasiswa dibiasakan berpikir kritis, terbuka terhadap kritik, serta menjadikan perbedaan sebagai sumber pembelajaran, bukan sebagai ancaman.

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Pontianak, Prof. Dr. Muhammad Edi Kurnanto, S.Ag., M.Pd., menilai salah satu keberhasilan terbesar Prof. Syarif adalah menjadikan budaya dialog sebagai karakter kampus.

"Pak Rektor selalu menekankan bahwa lulusan IAIN Pontianak harus memiliki keseimbangan antara kompetensi akademik, integritas moral, wawasan kebangsaan, dan sikap moderat dalam beragama. Nilai-nilai itu kami kawal melalui sistem penjaminan mutu agar benar-benar menjadi budaya kampus," ujarnya.

Menurut Prof. Edi, sistem penjaminan mutu di IAIN Pontianak tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar akademik dan akreditasi, tetapi juga memastikan proses pendidikan mampu melahirkan lulusan yang berkarakter, berintegritas, berpikir kritis, serta memiliki komitmen terhadap moderasi beragama dan nilai-nilai kebangsaan.

"Mutu perguruan tinggi tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah atau akreditasi unggul. Yang lebih penting adalah bagaimana kampus mampu melahirkan lulusan yang berintegritas, mampu berdialog, menghargai perbedaan, berpikir objektif, dan menjadi solusi bagi persoalan masyarakat. Itulah esensi mutu yang selalu ditekankan Prof. Syarif," jelasnya.

Ia menilai budaya dialog telah membentuk tradisi akademik yang sehat. Mahasiswa semakin terbiasa menyampaikan pendapat secara santun, membangun argumentasi berbasis data, menghargai perbedaan, serta siap menghadapi berbagai tantangan sosial, keagamaan, dan perkembangan teknologi dengan cara pandang yang terbuka.

Budaya dialog juga menjadi benteng penting dalam mencegah tumbuhnya sikap eksklusif, intoleran, dan radikal. Perbedaan diselesaikan melalui musyawarah, argumentasi ilmiah, dan penghormatan terhadap keberagaman, bukan melalui provokasi atau ujaran kebencian.

Menurut Prof. Edi, pendekatan tersebut sangat relevan dengan karakter Kalimantan Barat yang multikultural. Karena itu, budaya dialog terus diperkuat melalui berbagai forum akademik, kegiatan kemahasiswaan, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi dengan pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan perguruan tinggi.

Warisan inilah yang menjadi salah satu fondasi penting transformasi IAIN Pontianak pada era kepemimpinan Prof. Syarif. Tidak hanya memperkuat kualitas akademik dan tata kelola kelembagaan, tetapi juga meneguhkan peran kampus sebagai perguruan tinggi Islam yang melahirkan generasi moderat, inklusif, berintegritas, dan mampu menjadi perekat persatuan bangsa.

Kolaborasi Lintas Lembaga Memperkuat Ketahanan Kebangsaan

Keberhasilan IAIN Pontianak mengembangkan moderasi beragama pada era kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. tidak hanya bertumpu pada penguatan kurikulum dan pembinaan internal kampus, tetapi juga didukung jejaring kolaborasi yang luas dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional.

Sinergi tersebut menjadi fondasi dalam memperkuat ketahanan kebangsaan sekaligus meneguhkan posisi IAIN Pontianak sebagai pusat pengembangan Islam moderat di Kalimantan Barat.

Kemitraan dibangun bersama Kementerian Agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, pemerintah daerah, TNI, Polri, tokoh lintas agama, hingga berbagai perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui seminar kebangsaan, dialog lintas agama, kuliah umum, pelatihan moderasi beragama, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, ulama, pemerintah, dan masyarakat.

Melalui sinergi tersebut, IAIN Pontianak menegaskan bahwa penguatan moderasi beragama merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Kampus berperan sebagai ruang dialog, pusat pengembangan pemikiran, sekaligus laboratorium kebangsaan yang melahirkan generasi muda moderat, toleran, dan cinta Tanah Air.

Jejaring internasional juga terus diperluas melalui kerja sama dengan Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), sejumlah perguruan tinggi di Brunei Darussalam, Thailand, dan kawasan Asia Tenggara. Kemitraan itu mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, kuliah tamu internasional, penelitian kolaboratif, konferensi ilmiah, publikasi bersama, hingga pengabdian masyarakat lintas negara.

Kolaborasi tersebut memperkaya wawasan sivitas akademika dalam memahami dinamika masyarakat multikultural sekaligus memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat kepada komunitas akademik internasional.

Keberhasilan membangun ekosistem akademik yang inklusif juga ditopang tata kelola kelembagaan yang profesional. Kepala Bagian Umum dan Layanan Akademik Biro AUAK IAIN Pontianak, Muhammad Syahrun, S.E., M.M., menegaskan bahwa moderasi beragama harus tercermin dalam seluruh sistem pelayanan kampus.

"Moderasi beragama tidak cukup hanya menjadi materi di ruang kelas, tetapi harus menjadi budaya dalam tata kelola kampus. Kami memastikan layanan akademik, administrasi, hingga aktivitas kemahasiswaan berjalan dengan prinsip profesionalisme, keterbukaan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Kepemimpinan Prof. Syarif memberikan arah yang jelas bahwa nilai-nilai moderasi harus tercermin dalam seluruh sistem pelayanan kampus," ujarnya.

Menurut Syahrun, transformasi yang dilakukan tidak hanya menyentuh pembangunan sarana dan digitalisasi layanan, tetapi juga membangun budaya organisasi yang adaptif, humanis, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan prima.

Pandangan serupa disampaikan Suyati, S.Ag., mantan Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan yang kini menjabat Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI). Menurutnya, pembinaan mahasiswa merupakan instrumen penting dalam memperkuat persatuan dan kebangsaan.

"Mahasiswa adalah garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa. Di bawah kepemimpinan Prof. Syarif, pembinaan mahasiswa tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak, moderasi beragama, dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia," ungkapnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan organisasi kemahasiswaan, lembaga pemerintah, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, dan berbagai mitra strategis menjadi bagian penting dalam membangun iklim akademik yang sehat dan inklusif.

Moderasi beragama akan tumbuh kuat apabila tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan kampus, organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sinergi antara kepemimpinan yang visioner, tata kelola yang profesional, serta jejaring nasional dan internasional yang luas menjadikan IAIN Pontianak mampu menghadirkan wajah perguruan tinggi Islam yang moderat, terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Warisan kepemimpinan Prof. Syarif tidak hanya terlihat pada kemajuan kelembagaan dan akademik, tetapi juga pada kokohnya fondasi kebangsaan yang dibangun melalui penguatan moderasi beragama sebagai identitas utama IAIN Pontianak.

Membangun Ekosistem Moderasi Beragama

Komitmen Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. dalam memperkuat moderasi beragama di IAIN Pontianak diwujudkan melalui pembentukan dan penguatan Pusat Moderasi Beragama (PMB) sebagai motor penggerak pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi lintas agama dan budaya.

Keberadaan PMB tidak sekadar memenuhi kebijakan Kementerian Agama, tetapi menjadi bagian dari strategi kelembagaan untuk membangun budaya akademik yang moderat, menghargai keberagaman, dan melahirkan sivitas akademika yang mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk.

Kepala Pusat Rumah Moderasi Beragama IAIN Pontianak, Faisal Abdullah, M.Si., menilai kepemimpinan Prof. Syarif memberikan ruang yang luas bagi pengembangan moderasi beragama sebagai budaya kampus, bukan sekadar slogan kelembagaan.

"Selama kepemimpinan Prof. Syarif, moderasi beragama tidak berhenti sebagai konsep yang dibicarakan dalam seminar atau diskusi. Beliau mendorong agar nilai-nilai moderasi benar-benar hidup dalam seluruh aktivitas kampus, mulai dari pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat hingga tata kelola kelembagaan," ujarnya.

Menurut Faisal, pembentukan budaya moderasi membutuhkan proses yang panjang karena berkaitan dengan pembentukan cara berpikir, karakter, dan budaya organisasi. Oleh sebab itu, pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diintegrasikan ke dalam kebijakan akademik dan kehidupan kampus sehari-hari.

"Moderasi beragama bukan sekadar program kerja, melainkan sebuah ekosistem. Ketika ekosistem itu terbentuk, seluruh sivitas akademika akan terbiasa menghargai perbedaan, terbuka terhadap dialog, dan mampu menyelesaikan persoalan melalui musyawarah serta pendekatan kemanusiaan," jelasnya.

Sebagai perguruan tinggi Islam negeri di Kalimantan Barat yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan etnis, IAIN Pontianak memandang moderasi beragama sebagai kebutuhan strategis. Keberagaman tersebut diposisikan sebagai modal sosial yang harus dirawat melalui pendidikan agar tetap menjadi kekuatan pemersatu bangsa.

Di bawah kepemimpinan Prof. Syarif, PMB mengembangkan berbagai program, mulai dari seminar nasional dan internasional, diskusi kebangsaan, pelatihan moderasi beragama bagi dosen dan mahasiswa, penelitian kolaboratif, penguatan literasi digital, hingga pengabdian kepada masyarakat yang mengusung semangat toleransi dan kehidupan yang harmonis.

PMB juga memperluas jejaring melalui kolaborasi dengan kementerian, pemerintah daerah, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, dan berbagai komunitas masyarakat.

"Moderasi beragama tidak bisa dibangun sendirian oleh kampus. Karena itu, Prof. Syarif selalu mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak agar pesan-pesan moderasi dapat menjangkau masyarakat lebih luas," katanya.

Faisal menilai tantangan terbesar saat ini tidak lagi terbatas pada radikalisme dalam bentuk konvensional, tetapi juga berkembangnya narasi intoleransi di ruang digital. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir kritis dan literasi digital agar mampu memilah informasi serta tidak mudah terpengaruh oleh ujaran kebencian, hoaks, maupun propaganda yang memecah belah persatuan.

"Kita hidup di era digital. Informasi keagamaan beredar tanpa batas. Karena itu mahasiswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah menerima informasi yang provokatif maupun narasi yang memecah belah persatuan," ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan moderasi beragama pada masa kepemimpinan Prof. Syarif dilakukan secara menyeluruh melalui pembelajaran di kelas, aktivitas kemahasiswaan, penelitian dosen, forum akademik internasional, hingga berbagai program pengabdian kepada masyarakat.

Nilai-nilai moderasi juga menjadi bagian dari upaya internasionalisasi kampus. Melalui berbagai forum, termasuk Konferensi Antarbangsa Islam Borneo (KAIB), IAIN Pontianak memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang damai, toleran, dan menghargai keberagaman kepada komunitas akademik internasional.

"Islam Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kemajemukan. Pengalaman itu menjadi modal besar yang diperkenalkan IAIN Pontianak kepada dunia internasional sebagai kontribusi bagi pembangunan peradaban," katanya.

Bagi Faisal, keberhasilan membangun moderasi beragama tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi dari tumbuhnya karakter sivitas akademika yang mampu hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman.

"Yang dibangun bukan hanya lembaga, tetapi juga cara berpikir. Kampus harus melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter moderat, menghargai keberagaman, cinta tanah air, dan mampu menjadi perekat persatuan bangsa. Saya melihat fondasi itu berhasil dibangun pada masa kepemimpinan Prof. Syarif," ungkapnya.

Ia berharap budaya moderasi beragama yang telah berkembang terus diperkuat sebagai identitas IAIN Pontianak sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam menjaga kerukunan masyarakat Kalimantan Barat.

"Moderasi beragama bukan pekerjaan yang selesai dalam satu periode kepemimpinan. Fondasi yang telah dibangun selama kepemimpinan Prof. Syarif menjadi modal penting bagi IAIN Pontianak untuk terus melahirkan generasi yang religius, moderat, dan menjadi pelopor perdamaian di tengah masyarakat," pungkasnya.

Penguatan moderasi beragama yang dibangun selama kepemimpinan Prof. Syarif menunjukkan bahwa transformasi perguruan tinggi tidak hanya diukur dari pembangunan fisik maupun capaian akademik.

Lebih dari itu, keberhasilan membangun budaya dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi investasi jangka panjang dalam mencetak lulusan yang berkarakter sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi Islam dalam menjaga keutuhan bangsa.

Literasi Digital Menjadi Benteng Baru

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi, termasuk pemahaman keagamaan. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, ruang digital juga menghadirkan tantangan serius berupa penyebaran intoleransi, radikalisme, ekstremisme berbasis kekerasan, ujaran kebencian, hoaks, hingga propaganda yang memanfaatkan sentimen agama untuk memecah belah masyarakat.

Menyadari perubahan tersebut, Rektor IAIN Pontianak Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A. memandang penguatan moderasi beragama tidak lagi cukup dilakukan melalui ruang-ruang akademik konvensional. Kampus harus hadir di ruang digital dengan membangun kemampuan literasi digital yang kuat di kalangan mahasiswa.

Pada masa kepemimpinannya, literasi digital dijadikan salah satu strategi penting dalam memperkuat ketahanan ideologi dan karakter kebangsaan. Literasi digital dipahami bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi, melainkan kecakapan berpikir kritis, memverifikasi informasi, memahami etika bermedia, serta membangun budaya komunikasi yang santun, bertanggung jawab, dan menghargai keberagaman.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program, seperti pelatihan literasi digital, seminar nasional, diskusi etika bermedia sosial, webinar bersama akademisi dan praktisi media, pelatihan fact-checking, kampanye damai di media sosial, lomba konten kreatif bertema moderasi beragama, hingga produksi konten edukatif yang melibatkan sivitas akademika.

Mahasiswa didorong menjadi kreator konten yang mampu menghadirkan narasi positif di ruang publik digital. Berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), organisasi kemahasiswaan, dan komunitas digital kampus dilibatkan untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam Wasathiyah, toleransi, persatuan, cinta Tanah Air, serta penghormatan terhadap keberagaman. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga agen penyebar pesan perdamaian yang mampu menangkal hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda yang menyesatkan.

Dalam berbagai kesempatan, Prof. Syarif menegaskan bahwa ruang digital merupakan medan baru dalam membangun peradaban. Karena itu, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menyaring informasi sekaligus bertanggung jawab atas setiap konten yang diproduksi dan disebarkan.

"Mahasiswa harus mampu membedakan mana dakwah yang membawa kedamaian dan mana propaganda yang mengarah pada kebencian. Dunia digital harus diisi dengan narasi yang menyejukkan, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa. Jangan sampai media sosial justru menjadi ruang yang memperlemah persatuan karena dipenuhi hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian," tegas Prof. Syarif.

Menurutnya, kemampuan literasi digital merupakan kompetensi yang tidak dapat dipisahkan dari pembentukan karakter mahasiswa di era transformasi digital. Mahasiswa tidak hanya dituntut cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki integritas moral, kedewasaan berpikir, dan kepekaan sosial dalam setiap aktivitas di dunia maya.

Ia juga mengingatkan bahwa penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dapat memicu konflik sosial, memperkuat polarisasi, bahkan dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan. Karena itu, kampus berkewajiban membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, melakukan verifikasi informasi, memahami konteks pemberitaan, serta mengedepankan prinsip tabayyun sebelum menyebarluaskan informasi.

Penguatan literasi digital juga diarahkan untuk membangun budaya akademik yang sehat. Mahasiswa dibiasakan menggunakan sumber ilmiah yang kredibel, menghormati hak kekayaan intelektual, menghindari penyebaran informasi tanpa dasar yang jelas, serta mengembangkan tradisi diskusi yang berbasis data dan argumentasi ilmiah.

Melalui berbagai langkah tersebut, IAIN Pontianak berupaya melahirkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam Wasathiyah, Pancasila, dan semangat persatuan Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Prof. Syarif, transformasi digital tidak hanya dimaknai sebagai modernisasi teknologi, melainkan juga sebagai ikhtiar membangun kesadaran kritis, tanggung jawab moral, dan karakter kebangsaan.

Dengan demikian, literasi digital menjadi benteng baru dalam menjaga moderasi beragama sekaligus memperkuat ketahanan intelektual generasi muda di era digital.

Mewariskan Kampus sebagai Laboratorium Perdamaian

Seluruh rangkaian kebijakan tersebut bermuara pada satu tujuan besar, yakni menjadikan IAIN Pontianak sebagai laboratorium moderasi beragama sekaligus pusat lahirnya agen-agen perdamaian.

Bagi Prof. Syarif, keberhasilan perguruan tinggi bukan hanya diukur dari gedung yang megah, akreditasi unggul, ataupun banyaknya publikasi ilmiah.

Keberhasilan sejati adalah ketika kampus mampu melahirkan lulusan yang berintegritas, menghormati keberagaman, menjaga persatuan bangsa, serta mampu menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

"Kami ingin setiap lulusan IAIN Pontianak menjadi duta moderasi beragama. Mereka harus mampu menghadirkan Islam yang menyejukkan, memperkuat persaudaraan, menjaga keutuhan NKRI, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah warisan yang ingin kami bangun di IAIN Pontianak," tutup Prof. Syarif.

Jejak kepemimpinan Prof. Syarif memperlihatkan bahwa transformasi IAIN Pontianak tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, peningkatan mutu akademik, digitalisasi layanan, maupun pencapaian akreditasi.
Lebih jauh, ia meletakkan fondasi yang kokoh bagi lahirnya budaya kampus yang menjunjung tinggi moderasi beragama, memperkuat karakter kebangsaan, serta membangun ketahanan intelektual terhadap berbagai bentuk radikalisme dan intoleransi.

Melalui penguatan Rumah Moderasi Beragama, integrasi nilai-nilai moderasi ke dalam kurikulum, pembinaan karakter melalui Ma'had Al-Jami'ah, pengembangan organisasi kemahasiswaan, peningkatan literasi digital, penguatan riset dan pengabdian masyarakat, budaya dialog, serta kolaborasi yang luas dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional.

IAIN Pontianak di bawah kepemimpinan Prof. Syarif berhasil meneguhkan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam yang konsisten mengembangkan Islam yang moderat, inklusif, rahmatan lil 'alamin, sekaligus menjadi benteng intelektual dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (aep mulyanto)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda